Kamis, 26 April 2012

makalah


AL QURAN MENURUT PERSPEKTIF ASY’ARIYAH

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Robb semesta alam yang telah menunjukkan kepada kita semua kepada cahaya Islam dan sekali-kali kita tidak akan mendapatkan petunjuk-Nya jika Allah tidak memberi petunjuk. Kita mohon kepada-Nya agar kita selalu senantiasa ditetapkan di atas hidayah-Nya sampai akhir hayat, sebagaimana firman Allah SWT :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡B .  
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. ( Q.S Ali Imran : 102)
Begitu pula kita memohon agar hati kita tidak dicondongkan kepada kesesatan setelah kita mendapatkan petunjuk-Nya, Allah berfirman :
$oY­/u Ÿw ùøÌè? $oYt/qè=è% y÷èt/ øŒÎ) $oYoK÷ƒyyd ó=ydur $uZs9 `ÏB y7Rà$©! ºpyJômu 4 y7¨RÎ) |MRr& Ü>$¨duqø9$# . 
Artinya : “(mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)". ( Q.S Ali Imran : 8)
Dan semoga shalawat serta salam selalu Allah limpahkan kepada Nabi kita, suri tauladan kita, dan kekasih kita, Rasulullah Muhammad SAW, yang telah di utus kepada kita sebagai rahmat bagi semesta alam. Dengan kehadiran beliau kita dapat menikmati indahnya Diinul Islam sampai saat ini.
Didalam penulisan makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan dan kekhilafan. Untuk itu sumbang saran, tegur sapa akrab  dari para pembaca sangat kami harapkan demi kebaikan kami kedepannya. Semoga makalah ini dapat menjadi hikmah dan sebagai materi diskusi dalam mata kuliah Ilmu Kalam.
Ilmu Kalam merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan agama Islam yang unik dan menarik untuk dikaji. Karena didalamnya banyak perbedaan-perbedaan pendapat para alim ulama tentang aqidah islamiyah yang diantaranya mengenai Dzat dan Sifat Allah, Kalam Tuhan, Keadilan Tuhan, dan lain-lain.
Allah menciptakan manusia dalam berbagai suku-suku dan golongan. Letak geografis sangatlah mempengaruhi sifat dan watak manusia. Misalnya suku Jawa yang terletak pada iklim tropis yang sejuk menjadikan orang-orang Jawa memiliki sifat yang lemah lembut dan santun tutur sapanya serta baik pula perangainya dalam pergaulan sehari-hari. Sebagaimana kita ketahui, agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW diturunkan di negeri Arab yang telah kita mafhumi secara geografis Negara Arab terletak diantara gurun-gurun pasir yang tandus dan gersang sehingga menjadikan penduduknya memiliki sifat yang keras dan tahan uji supaya dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Diantara sifat baik masyarakat Arab adalah selalu memegang teguh pada janji.
Agama Islam tidak serta merta dapat diterima masyarakat Arab pada saat itu, karena pada awal datangnya agama Islam, masyarakat Arab telah memiliki keyakinan-keyakinan yang merupakan warisan nenek moyang mereka. Menyembah berhala-berhala, melakukan sesaji merupakan perbuatan mereka sehari-hari. Sejalan dengan kegigihan perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat setia beliau beserta para tabiin dan tabiit tabiin dan para ulama muslim, agama Islam dapat menyebar keseluruh penjuru dunia. Bahkan sampai saat ini agama Islam sampai pada diri kita.
Pada saat Rasulullah SAW masih hidup, segala permasalahan agama selalu dapat diselesaikan karena umat Islam pada saat itu menganggap Rasulullah SAW sebagai satu-satunya sumber ajaran agama Islam. Setelah wafatnya beliau, khilafiyah-khilafiyah diantara kaum muslimin mulai timbul, mulai dari masalah khilafah sampai masalah-masalah aqidah. Apalagi setelah terjadinya perang Shiffin antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Sehingga terjadi peristiwa arbritase yang mengakibatkan perpecahan umat Islam menjadi beberapa golongan yakni ; syiah, khawarij, dan murji’ah.
Oleh karena menariknya problematika tersebut diatas, didalam makalah kami ini penulis mencoba menghaturkan sebuah penelitian dari berbagai sumber dengan judul AL QUR’AN MENURUT PERSPEKTIF ASY’ARIYAH.

PERMASALAHAN

            Apakah Al Quran itu?
            Bagaimana pendapat kaum Asy’ariyah dalam memandang Kalam Al Qur’an?

LANDASAN TEORI

            Dr. Ibrahim Madkour dalam bukunya Aliran Dan Teori Filsafat Islam menuliskan Asy’ariyah merupakan aliran yang hidup hingga sekarang, berumur hampir sepuluh abad.   Abu Hasan Al Asy’ari (260-324 H) yang dibesarkan dalam aliran Mu’tazilah, ia tidak terseret ekstrimitas Mu’tazilah dan ekstrimitas Salaf pada saat itu. Ia hendak berdiri di tengah di antara kedua aliran itu. Akhirnya ia memberontak dari gurunya dan mengumumkan dakwahnya di masjid Jami’ Basrah, untuk itu ia mengatakan : Barangsiapa telah mengenalku, berarti ia benar-benar mengenalku. Sedangkan untuk mereka yang belum mengenalku, aku akan mengenalkan diri. Aku adalah fulan bin fulan. Dulu aku mendukung teori bahwa “Al Quran adalah makhluk” Allah tidak bisa dilihat dengan mata dan perbuatan-perbuatan jelek akulah yang melakukannya. Kini aku taubat dari semua itu”.[1]
Prof. Dr. Harun Nasution berpendapat kaum Asyariyah dalam kacamata Aqidah memandang Al Quran tidaklah diciptakan, sebab kalau diciptakan maka sesuai dengan ayat :
$yJ¯RÎ) $uZä9öqs% >äóÓy´Ï9 !#sŒÎ) çm»tR÷Šur& br& tAqà)¯R ¼çms9 `ä. ãbqä3uŠsù .    
Artinya : “Sesungguhnya Perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", Maka jadilah ia”. (Q.S An Nahl : 40)
Untuk penciptaan itu perlu kata kun, dan untuk terciptanya kun ini perlu kata kun yang lain, begitu pula seterusnya sehingga terdapat kata-kata kun yang tak berkesudahan. Dan ini tidak mungkin. Oleh karena itu Al Quran tak mungkin diciptakan.[2]

PEMBAHASAN

Beberapa pengertian dasar

Kami  tidak akan menggunakan istilah-istilah ilmiah yang digunakan oleh alim ulama yang ahli dalam bidang Ilmu Kalam, dan juga kami tidak akan memasuki dalam teori-teori yang bercorak falsafah atau cara-cara mantik yang biasa digunakan oleh ulama Mutakallimun ketika mereka memperkatakan maudu’-maudu’ yang seperti ini.
Aqidah. Menurut bahasa bebarti ikatan dan tarikan yang kuat. Sedangkan menurut istilah adalah keputusan pikiran yang mantap, benar maupun salah.[3]
Tauhid. Menurut bahasa adalah memutuskan bahwa sesuatu itu satu. Sedang menurut istilah adalah meng-Esakan Allah dan menunggalkan-Nya sebagai satu-satunya Dzat pemilik rububiyah, uluhiyah, asma’ dan sifat.[4]
Iman. Menurut Hasan Hanafi, ada empat istilah kunci yang biasanya digunakan oleh para teolog muslim dalam membicarakan konsep iman, yaitu :
a.       Ma’rifah bi al-aql, mengetahui dengan akal.
b.      Amal, perbuatan baik dan patuh.
c.       Iqrar, pengakuan secara lisan, dan
d.  Tashdiq, membenarkan dengan hati, termasuk pula didalamnya Ma’rifah bi al-aql.
Al Quran , menurut bahasa berarti bacaan. Al Quran ialah Kitab Allah dan wahyu-Nya yang diturunkan kepada hamba-Nya yang ummiy, penutup para Nabi dan Rasul.[5]
Qadim, menurut bahasa berarti dahulu atau terdahulu. Menurut istilah, qadim berarti sesuatu yang tidak bermula lawan dari sifat baqi.[6]

Al Quran Menurut Perspektif Asy’ariyah

Al Quran sebagai kitab suci umat Islam, pedoman hidup serta penjawab segala persoalan jaman dipandang berbeda-beda menurut kacamata Kalam atau Aqidah oleh umat Islam itu sendiri.
Membaca Al Quran merupakan ibadah yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan merupakan ketaatan yang amat mulia disisi-Nya, karena padanya terdapat pahala dan balasan yang besar.[7]
Allah swt berfirman :
¨bÎ) tûïÏ%©!$# šcqè=÷Gtƒ |=»tGÏ. «!$# (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qà)xÿRr&ur $£JÏB öNßg»uZø%yu #uŽÅ  ZpuŠÏRŸxtãur šcqã_ötƒ Zot»pgÏB `©9 uqç7s? .   óOßguŠÏjùuqãÏ9 öNèduqã_é& NèdyƒÌtƒur `ÏiB ÿ¾Ï&Î#ôÒsù 4 ¼çm¯RÎ) Öqàÿxî Öqà6x© .  
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”[8] (Q.S Al Fathir : 29-30)
Orang yang membaca Al Quran harus mengenal hak Al Quran yang harus dipenuhi yakni, wajib penghormatan dan kemuliaan, diperhatikan dan diamalkan apa yang ditunjukkannya dari sifat-sifat yang baik, akhlak yang mulia dan amalan yang saleh. Semua perkara ini dituntut dari kaum Muslimin pada umumnya, dan terlebih lagi kepada para pembaca Al Quran. Karena mereka memang lebih layak, disebabkan kedudukan dan kelebihan yang ada padanya dari Kitahu’I-Lah, keterangan-keterangan dan hujjah-hujjahnya.[9]
Al Ghazali sebagai salah satu pengikut Al Asy’ari yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat Islam yang beraliran Ahlu Sunnah Wal Jamaah berpendapat bahwa Al Quran bersifat qadim dan tidak diciptakan.[10]
Pendapat beliau tersebut berdasarkan firman Allah swt :
žcÎ) ãNä3­/u ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur Îû Ïp­GÅ 5Q$­ƒr& §NèO 3uqtGó$# n?tã ĸóyêø9$# ÓÅ´øóムŸ@ø©9$# u$pk¨]9$# ¼çmç7è=ôÜtƒ $ZWÏWym }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur tPqàfZ9$#ur ¤Nºt¤|¡ãB ÿ¾Ín͐öDr'Î/ 3 Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 x8u$t6s? ª!$# >u tûüÏHs>»yèø9$# .